Panduan Menjadi Moderator Seminar yang Efektif & Handal

22 12 2010

Moderator acara memegang peranan yang amat penting pada hari-H. Sukses tidaknya, berkesan tidaknya acara bagi peserta, narasumber, pemasang iklan dan panitia akan amat terlihat pada bagaimana moderator menjalankan tugasnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, berikut adalah sedikit panduan tentang bagaimana menjadi moderator seminar yang baik. Anda barangkali punya pengalaman yang bisa memperkaya, silahkan dibagi di sini.
Persiapan sebelum hari-H
1. Pelajari material setiap sesi.

Mau cara yang gampang, minta panitia untuk kirimkan handout dari setiap pembicara. Tapi ada kalanya (sering bahkan) handout ini tidak bisa diterima hingga hari H. Maka tempuh alternatif lain: Anda bisa lakukan riset di internet. Dengan cara ke-2 ini, Anda tetap harus setidaknya membaca beberapa bagian dari handout/slide begitu Anda tiba di lokasi acara. Pengetahuan tentang materi yang akan disampaikan akan membantu Anda:

* Membuat preview dan kata-kata pembuka sesi yang berbobot dan tidak kacangan. Jika narasumber yang hadir adalah orang2 terpilih, tak ada salahnya Anda juga tampil smart dan well-informed.
* Ngobrol dengan narasumber ketika mereka hadir di lokasi sebelum acara berlangsung. Pengetahuan Anda tentang apa2 yang akan mereka bawakan tidak hanya akan membuat hubungan Anda jadi lebih cair, namun juga membuat sang narasumber berikan apresiasi kepada Anda atas pemahaman atau minimal ketertarikan yang Anda punya atas materi yang akan dia bawakan.

2. Pilih busana baik-baik

Jangan pakai baju warna kinclong atau apapun yang mencolok. Itu akan membuat Anda tampak lebih menonjol ketimbang sang pembicara. Dalam acara di mana Anda jadi moderator, ingat ingatlah untuk tidak tampak lebih keren secara menonjol ketimbang sang narasumber. Dengan baju yang mencolok apalagi dandan yang berlebihan, itu akan membuat perhatian audience dan pemirsa dokumentasi foto/film menjadi teralihkan secara serius pada Anda. “Yah, klo dasarnya emg keren gimana, dong?”. Iya, tahu. Tapi bagaimanapun, bintangnya adalah mereka para narasumber, sayangnya bukan Anda sang moderator.
3. Persiapkan amunisi dengan baik

Anda sebaiknya bersiap manakala panitia terlalu sibuknya hingga tak sempat siapkan hal-hal remeh untuk kepentingan narasumber. Berikut adalah yang biasa saya siapkan dan bawa pada saat acara:

* Form kurikulum vitae pembicara. Meskipun panitia biasanya punya, tapi saya lebih suka pake punya sendiri manakala desain & layoutnya lebih keren.
* Paparan perkenalan diri Anda sendiri, untuk dibacakan oleh MC. Saya lebih menyukai model perkenalan yang sifatnya pemaparan alih-alih berbentuk daftar yang membuat cara pembacaan menjadi kaku. Apapun, sebaiknya ini Anda siapkan sendiri. Normalnya, Anda tak perlu membuat perkenalan yang panjang apalagi sampai melebihi narasumber.
* Form pertanyaan peserta. Intinya adalah ada slot untuk mengisi nama, asal, dan pertanyaan. Tapi tentu pake kertas kosong pun tak masalah. Intinya Anda harus bawa, dan bukan hanya untuk Anda sendiri, tapi juga untuk narasumber yang bisa jadi tak membawa selembar kertas pun bersama mereka. Akan tampak profesional bila kertas2 yang Anda bawa memiliki kop nama kegiatan. Itu akan membuat Anda (dan panitia) terkesan well-prepared.
* Surat Cinta untuk memberitahukan batas waktu. Saya biasa menggunakan surat cinta untuk memberitahukan bahwa waktu kurang 15 menit, kurang 5 menit, dan waktu telah habis. Saya cetak di kertas ukuran A5 dg ukuran huruf super besar. Diupayakan pake kertas yang tebal, sedemikian rupa sehingga bila Anda menunjukkannya ke pembicara, kertas tersebut tidak trawang terlihat oleh hadirin. Dan satu lagi, bikin juga surat cinta untuk memberitahu agar narasumber mempersingkat jawabannya (untuk digunakan di sesi tanya jawab).
* Siapkan juga kertas kosong ukuran kecil (misal A5 bagi dua) untuk surat-suratan dengan panitia, yakni manakala Anda memanggil panitia ke meja Anda.
* Dan juga siapkan ballpoint, untuk Anda dan juga jaga-jaga buat narasumber (bisa minta ke panitia sebelum Anda maju ke depan)

Aktivitas Moderator pada Hari-H

Urutan aktivitas seorang moderator adalah sebagai berikut

1) Moderator harusnya hadir jauh sebelum acara dimulai. Bukan dadakan. Dengan demikian, moderator bisa turut menyiapkan perangkat atau memastikan ketersediaan alat dan bahwa itu semua berfungsi

* Meja dan kursi pembicara di depan
* Kursi pembicara yang tidak sedang berbicara
* Pengeras suara
* LCD proyektor

2) Moderator “membriefing” panitia, sebelum acara dimulai, untuk perihal-perihal sebagai berikut:

* Minta kurikulum vitae; siapkan/bikin sendiri juga, just in case
* Kalo air minum dari moderator atau narasumber habis, minta ke panitia agar langsung saja ganti dengan yang baru
* Ingatkan agar panitia memberikan minum/makanan dari sebelah kanan belakang
* Tunjuk/kenali panitia yang mengoperasikan perangkat elektronik misal sound system dan slide
* Buat kesepakatan komunikasi dengan panitia, terutama bila Anda butuh bantuan hingga membutuhkan panitia untuk maju ke depan menghampiri Anda

3) Saat Pembicara memasuki ruangan, siapkan tempat duduk sejak awal. Bilang ke panitia untuk mengkhususkan kursi tertentu, dijaga agar tidak diduduki oleh peserta yang datang terlebih dulu. Narasumber bisa diantar oleh panitia acara untuk kemudian diperkenalkan kepada moderator.

4) Moderator memperkenalkan diri kepada narasumber

5) Pembicara mengisi kurikulum vitae. Siapkan ballpoint, just in case. Namun sebelumnya, tanyakan apakah pembicara memiliki kurikulum vitae yang dibawa sendiri dari rumah. Tanyakan bagaimanakah dia sang pembicara ingin diperkenalkan. Bisa jadi dia punya pencapaian atau prestasi atau informasi apapun yang belum terdapat di form CV. Bisa jadi juga dia sudah menyiapkan CV yang amat panjang -misal 6 halaman- dan dia punya arahan terkait mana-mana saja yang perlu dibacakan. Intinya, buat sang pembicara senang atas bagaimana dia diperkenalkan.

6) Setelah pembicara rampung mengisi CV, moderator melakukan koordinasi dengan pembicara terkait:

* CV pembicara. Bacalah CV yang telah ditulis pembicara. Pastikan Anda bisa membaca semua tulisan yang ada. Jika ada yang tak jelas, langsung tanyakan, jangan sampai ada kejadian Anda terbata-bata atau kelihatan bingung ketika sedang membaca CV. Yang paling utama, jangan sampai Anda salah mengeja nama pembicara. Terutama untuk nama dengan ejaan lama dan yang memiliki huruf o atau e (untuk orang jawa).
* Kisi-kisi materi, dikonfirmasikan lagi tentang apa yang akan moderator sampaikan sebagai pengantar. Terkadang apa yang disampaikan narasumber berbeda dengan apa yang sudah jadi arahan panitia. Maka hal ini harus dikomunikasikan dengan baik.
* Kesepakatan masalah waktu. Informasikan berapa waktu total yang dimiliki pembicara atau bahkan setiap pembicara. Jika acara ternyata molor, maka sampaikan juga modifikasi jadwalnya.
* Pemberitahuan manakala waktu habis. Sampaikan bagaimana Anda akan mengkomunikasikan habisnya waktu kepada pembicara. Tunjukkan contoh “surat cinta” yang akan Anda sodorkan kepada mereka.
* Tanyakan tentang penyiapan laptop; mau minta dipasangkan atau lebih suka pasang sendiri? Termasuk juga sistem audio yang nyambung ke laptop. Lalu tanyakan, apakah butuh bantuan operator untuk slide?
* Jangan paksa narasumber untuk banyak berbicara. Pahami bahwa banyak pembicara/narasumber yang butuh membentuk konsentrasi dan mengondisikan diri sebelum mereka maju ke panggung. Jikapun mereka mengajak Anda ngobrol, jangan obrolkan hal-hal yang tidak relevan dengan apa yang akan dia sampaikan.

7) Masuk acara Pembukaan: pembacaan agenda acara oleh MC, sambutan-sambutan, dan apapun yang masuk pada prosesi pembukaan kegiatan. Sebagai moderator, Anda sebaiknya duduk manis memperhatikan. Siapapun yg memberi sambutan, pastinya adalah orang penting yg berharap Anda juga turut memperhatikan dia berbicara.

8 ) MC menyerahkan acara kepada Anda sebagai Moderator, setelah sebelumnya memperkenalkan. Gunakan dokumen perkenalan diri sesuai amunisi yang telah Anda siapkan.

9) Sesi Pertama

* Ucapkan salam setelah sebelumnya menebarkan senyum kepada hadirin. Dan ketika mengucapkan salam, pastikan Anda memandang hadirin, jangan menunduk melihat naskah/meja.
* Memberikan pengantar materi, misal mengapa kok materi yang akan disampaikan penting untuk dimunculkan di acara ybs.
* Apa yang diharapkan dari peserta
* Mengundang pembicara ke depan
* Memperkenalkan pembicara
* Mempersilahkan pembicara mulai berbicara
* Mengingatkan lagi masalah waktu tanpa perlu terdengar di mike
* Ketika sudah selesai, berikan komentar/review singkat tentang apa yang baru disampaikan

10) Sesi Kedua, ketiga, dan seterusnya. Apa yang dilakukan adalah memberi simpulan atau mencuplik sedikit bagian dari paparan yang baru saja disampaikan

“Menarik sekali apa yang disampaikan oleh Bapak/Ibu. Jadi ternyata … . Nah, baik. Sekarang, marilah kita beranjak pada pemaparan ke-2 yang akan disampaikan oleh yang terhormat Bapak/Ibu ….

11) Pada Sesi Diskusi

* Memberi kesempatan peserta bertanya setelah sebelumnya mensosialisasikan berapa banyak termin yang tersedia, dan berapa penanya di setiap terminnya. Sekalian juga Anda sampaikan aturan main semisal keharusan untuk mengacungkan tangan, lalu menyebutkan nama dan asal sebelum bertanya, serta batasan jumlah pertanyaan yang boleh diajukan setiap orang.
* Menegaskan; yang disampaikan peserta tu pertanyaan atau pernyataan
* Membantu peserta dalam merumuskan pertanyaan. Beneran, banyak sekali peserta yang bingung-bingung sendiri ketika bertanya.
* Memotong dan meringkas pertanyaan bila terlalu panjang
* Memancing pertanyaan dengan mengajukan frasa-frasa yang menggiring pada pertanyaan.
* Menegaskan dan mengulang pertanyaan, entah sekedar untuk memastikan seluruh peserta mendengar (manakala mike untuk peserta tidak tersedia) atau untuk mengingatkan lagi ketika narasumber hendak menanggapinya.

12) Kesimpulan dan Penutup. Ada kalanya kesimpulan tidak diperlukan jika memang forum/acaranya tidak dimaksudkan untuk membuat atau menuju ke arah simpulan tertentu. Yang wajib Anda sampaikan adalah poin-poin penting dari apa-apa yang telah disampaikan narasumber dan juga berdasarkan hasil sesi diskusi.

13) Pemberian kenang-kenangan. Untuk ini, Anda bisa bantu narasumber untuk memposisikan dirinya berdasarkan urutan tertentu di tempat pemberian kenang-kenangan. Bagaimana Anda tahu urutannya? Tentu saja karena Anda sebelumnya telah ngobrol dengan panitia tentang ini.

14) Foto bersama. Baik sekali bila Anda berada di tengah-tengah para narasumber. Dan sebaiknya simpan saja Peace Sign Anda



Kelahiranku yang Sedikit Berbeda

22 12 2010

Saya dilahirkan di Desa Randuagung, Kecamatan Sumber Jambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mungkin kelahiran saya biasa-biasa saja bagi orang lain, tapi bagi saya kelahiran saya adalah sesuatu yang sangat membanggakan, menyenangkan, dan mengharukan. Mungkin kedua orang tua saya juga berpendapat sama seperti saya. Saya lahir pada hari Senin, 24 Desember 1990, satu hari sebelum natal 1990, tepat pukul 13.00 wib. Menurut ibu saya yang sangat saya cintai dan hormati, sebagai seorang anak yang lahir di siang hari, seharusnya saya menjadi anak yang penakut, khususnya pada hal-hal ghoib. Setidaknya itu merupakan mitos yang ada di desa saya waktu itu.

Proses kelahiran saya berlangsung dengan menegangkan. Saya lahir dibantu oleh dukun (waktu itu memang jarang dokter). Saya lahir dengan posisi sungsang (kebalik). Dan itu pun tidak benar. Artinya, posisi saya lahir sangat salah dan tidak biasa. Saya lahir dengan kaki kanan dulu (biasanya kepala dulu). Dengan posisi lahir seperti ini membuat dukun yang bernama “Ba Sutina” berpendapat kemungkinan kecil saya akan selamat. Namun hal ini tidak terbukti, disinilah kuasa Allah, dengan kekuasaan-Nya, ibu saya tercinta mampu bertahan dalam kondisi ini. Dengan kaki kanan yang keluar dulu membuat ibu saya tercinta merasakan kesakitan yang tidak pernah saya bisa membayangkannya. Kaki kiri saya tertahan, dan saya ada diantara hidup dan mati sebelum saya dilahirkan seutuhnya. Dengan perjuangan berat saya akhirnya bisa lahir dengan keadaan selamat.

Namun, ada konsekuensi yang harus saya terima akibat posisi lahir saya ini. Saya saat baru dilahirkan, lahir dengan kaki yang tidak normal. Kaki kanan saya lebih panjang dari pada kaki kiri saya, akibat kaki kanan yang terpaksa ditarik waktu kelahiran saya agar saya bisa selamat. Keadaan ini membuat kedua orang tua saya yang saya hormati dan juga keluarga lain merasa kasihan, simpati dan sedih. Ba Sutina pun ikut sedih (“ba” sebutan nenek dalam bahasa madura). Namun, beliau tidak tinggal diam, sebagai seorang dukun yang berdedikasi dan bertanggung jawab, Ba Sutina bertekat untuk menyembuhkan kaki saya itu. Entah bagaimana cara merawatnya, akhirnya kaki saya dapat normal kembali, dan sekarang saya bisa berjalan dengan posisi tegap tanpa tanda-tanda ketidak normalan yang pernah saya alami waktu masih kecil. Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih pada Ba Sutina, saya hanya bisa berharap dan mendoakan yang terbaik untuk beliau. Dan tentunya juga kepada ibu saya tercinta, beliau yang melahirkan saya dengan penuh perjuangan. Karena beliau saya hidup dan untuk beliau pulalah saya hidup.

Setelah saya lahir dengan posisi sungsang itu, ada satu tradisi yang cukup tidak biasa yang harus saya lewati. Tradisi ini biasa dilakukan di desa saya terhadap anak-anak yang lahir dengan posisi sungsang. Saya “dibuang”. Entah apa nama tradisi ini, saya diletakkan diatas wadah yang terbuat dari anyaman bambu kemudian saya diletakkan di luar rumah oleh ibu saya tercinta. Prosesi inilah yang saya sebut dibuang karena pada waktu meletakkan saya, ibu saya tercinta mengucapkan “Saya membuang anak yang ini. Bagi siapa yang menemukan saya harap anak ini dirawat”. Setelah prosesi ini, kemudian saya di ambil oleh orang lain yang juga merupakan tetangga saya. Setelah beberapa lama dirawat oleh tetangga saya itu, saya kemudian dikembalikan kepada orang tua saya tercinta. Prosesi ini dilakukan dengan harapan saya terhindar dari marabahaya yang mitosnya akan dialami oleh setiap anak yang lahir sungsang. Bahaya yang akan terjadi sebelum saya beurumur lima tahun ini bisa saja merenggut nyawa saya. Itulah mitos dari kelahiran sungsang, yang sebagian orang juga mengatakan, anak yang lahir sungsang pada umumnya memiliki keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki anak lain.

Cerita kelahiran saya ini yang mengawali kisah-kisah hidup saya selanjutnya. Kisah yang penuh hikmah dan keistimewaan-keistimewaan hidup. Saya percaya, semua yang terjadi memiliki hikmah dibaliknya, tinggal bagaimana kita Berfikir Arif Menilai Kehidupan ini.



Namaku Cermin Diriku

22 12 2010

Saya lahir dengan nama Muhammad Arifin Siregar, setidaknya itulah nama yang ada di akte kelahiran saya yang pertama. Nama dan akte ini terus saya pakai sampai akhirnya saya membuat akte baru yang namanya tertulis Muhamad Arifin. Perubahan akte ini harus saya lakukan, karena nama yang ada di akte kelahiran saya yang pertama itu tidak sama dengan yang ada di ijazah saya.

Nama Muhamad Arifin diberikan oleh kakek saya yang sangat saya hormati. Beliau juga merupakan guru spritual utama saya. Menurut beliau nama itu diberikan dengan harapan saya dapat meneladani kehidupan Nabi Muhammad S.A.W, dapat menjadi pemimpin yang berfikir bijak dalam setiap keadaan dan kelakuan. Hal ini pula lah yang merupakan motivasi saya dalam melakukan setiap hal.

Namun bagimana pun juga nama saya yang mendarah daging adalah nama pertama yang saya dapatkan yaitu Muhammad Arifin Siregar. Ada pun arti dari nama ini antara lain: Ambisius/gemar/bernafsu mengejar kehormatan, berhasil dengan baik, cerdas dan beruntung, kekuatan, kebijaksanaan, penciptaan dan kegaiban, bengis, ketus dan kedukaan, kesentausaan dan suka ilmu pengetahuan, keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan, berkah Tuhan, negeri dan seisinya, pesta, kegembiraan dan pernikahan, kebahagiaan, kehormatan dan pernikahan, sifat ragu-ragu, bersemangat, berpengetahuan dan keindahan, kerusakan, kebinasaan dan kematian. (dari penelusuran http://www.indospiritual.com/index.php?p=19)

Di desa, saya dikenal dengan panggilan “Arip”. Maklumlah orang madura, yang seharusnya arif malah jadi Arip. Panggilan ini adalah nama kecil saya juga. Nama panggilan pertama yang saya dengar waktu saya masih kecil. Entah siapa yang memanggil saya Arip pertama kali, saya harap orang itu adalah ayah saya yang sangat saya kagumi.

Tapi, nama panggilan saya bukan hanya itu saja, Waktu menginjak ke SD saya dipanggil “Arifin”. Panggilan ini terus dipakai dalam berbagai kegiatan formal, yaitu di sekolah sampai saat ini. Perubahan nama panggilan ini membbuat saya sedikit tampak keren karena dari panggilan desa sudah sedikit berubah menjadi panggilan bernuansa kota.
Semasa di SMP Negeri 1 Sumber jambe, tepatnya semester 4 akhir, setelah saya melakoni peran Sakera Ripen dalam Operet Dewi Sri Mencari Cinta, saya mendapat panggilan baru , yaitu “Ripen”. Operet ini di tampilkan untuk meramaikan acara perpisahan kakak-kakak kelas tiga. Panggilan ini juga di pakai oleh Bu Retno, Guru Bahasa Inggris saya waktu SMA. Vesti temen SMA juga menggunakan panggilan itu.

Setelah di SMA semester 3, saya mendapatkan panggilan baru, “Ketum”. Panggilan ini saya dapatkan setelah saya berhasil terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) OSIS SMAN Kalisat periode 2007-2008. Sampai sekarang temen-temen saya masih ada yang memanggil saya dengan panggila itu, meskipun berbeda, ada yang memberi imbuhan Pak menjadi Pak Ketum, ada juga yang memberi imbuhan Kak. Nama lain yang pernah saya miliki adalah “Blue”. Panggilan ini adalah panggilan khusus yang saya dapatkan dari teman akhwat istimewa saya yang saya panggil “Green”.

Baru-baru ini saya lagi-lagi mendapat nama panggilan baru yaitu “ipin” dan “komti”. Panggilan Ipin diberikan oleh SR (Senior Residence) saya di Asrama TPB IPB. Pangilan ipin sebanrnya pertama kali saya peroleh pada waktu SMA yaitu dari salah satu adek kelas berprestasi yang mengirimkan surat pada saya waktu MOS 09. Sedangkan, Komti merupakan jabatan saya di kepengurusan kelas yang merupkan singkatan dari “Komandan Tingkat”. Jabatan ini setara dengan ketua kelas waktu SD, SMP, dan SMA. Yang tidak bisa dilupakan lagi, dari dulu samapi sekarang nama panggilan yang sering saya dengar dari teman-teman adalah “Husen”, yang merupakan nama dari Ayah saya tercinta. Dan panggilan seperti “Cak” (sebutan kakak dalam bahasa Madura), “Kakak”, dan “Mas” sering saya dapatkan dari teman-teman sebaya saya sejak SD.

Entah apa ada lagi nama panggilan lain yang akan saya dapatkan, yang jelas saya senang dengan semua panggilan itu. Semua panggilan itu mempunyai arti dalam kehidupan saya. Semuanya memiliki cerminan dari setiap hal yag pernah saya alami. Saya tidak akan melupakan panggilan-panggilan itu. Saya percaya, semua yang terjadi memiliki hikmah dibaliknya, tinggal bagaimana kita Berfikir Arif Menilai Kehidupan ini.



Saya Ingin Menjadi Lurah

22 12 2010

Siang itu asrama tampak biasa-biasa saja. Saya lupa, tanggal  berapa tepatnya hari itu. Pagi-pagi saya berangkat kuliah, dan sore harinya saya kembali ke asrama untuk beristirahat sejenak. Tidur, itulah kegiatanku setelah itu. Sekitar jam 11 saya terbangun, saya langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk ibadah sholat maghrib.

Selesai ngjai ba’da maghrib terdengan teriakan jargun dari lorong-lorong asrama. Timbul pertanyaan dari dalam diriku, “ada apa? Kenapa banyak yang meneriakkan jargon?”. Saya pun keluar dari kamar dan menanyakan hal itu ke RT (Ketua) lorongku.

“Sekarang ada pemilihan lurah.” Jawab beliau.

“Pemilihan lurah? Kenapa saya gak tau ya pak RT?.” Tanysaya kembali.

“Owh, dulu sudah saya umumkan, tapi Ipin sepertinya gak ada waktu itu.” Jelasnya.

Sedih rasanya mendengar hal itu. Saya sebenarnya inginsekali menjadi lurah, tapi hanya karena saya tidak tahu informasinya, satu cita-citsaya harus saya relakan tidak tercapai. Dulu saya juga mencoba untuk menjadi RT, tapi saat pemilihan RT, saya tidak terpilih. Oh iya, mungkin perlu dijelaskan sedikit.  Waktu itu saya tinggal di asrama. Ada sistem organisasi di asrama itu. Ada RT yang mengetuai sejumlah kamar yang ada dalam satu deret lorong dan ada Lurah yang mengetuai RT-RT yang ada tersebut. Singkat cerita, pemilihan lurah kemudian dilaksanakan ba’da isya. Sempat terjadi sesuatu yang unik dalam pemilihan itu, tapi hal ini akan saya ceritakan di lain kesempatan saja. Selama pemilihan, saya sama sekali tidak menikmati acaranya. Dalam pikiranku masih terbersit pemikiran bahwa seandainya saja saya tau informasi itu saya pasti bisa jadi lurah. Kecewa sekali rasanya saya tidak bisa menggapai cita-citsaya hanya karena tidak dapat infonya. Akhirnya terpilih Rifa’i sebagai lurah pada pemilihan tersebut.

Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan pun berlalu. Tapi belum ada perubahan di asrama. Saya pun melanjutkan aktivitasku sebagai seorang mahasiswa aktivis. Setelah pemilihan lurah itu, saya mencari aktivitas dan cita-cita jangka pendek lain, saya berusaha untuk menjadi ketua BEM. Selama tiga bulan ini, saya sudah masuk dalam beberapa organisasi, seperti : anggota Gugus Disiplin asrama (GDA), Pramuka, Menjadi Komandan Tingkat (Ketua Kelas) B.28. Tapi, kehidupan normalku masih terjadi seperti biasanya. Sampai di suatu pagi, ada ketukan pintu di kamarku. Setelah saya buka pintunya, saya lihat kak Catur, Senior Recident (SR) ku sedang berdiri. Beliau masuk dan dimulalilah perbincangan yang membuatku bingung.

“Gimana kabar Ipin.” Kata beliau mengawali pembicaraan.

“Alhamdulillah, sehat kak. Ada apa ya kak? Soalnya tidak biasanya pagi-pagi seperti ini, Kakak ke sini?” tanysaya.

“Wah… Ipin ini gak suka basa basi ya? Gini pin, Ipin kenal Rifa’i kan ya? Lurah kita. Nah beliau karena suatu alasan, ingin mengundurkan diri dari amanahnya. Bahkan, sekarang boleh dibilang beliau sudah mengundurkan diri.  Dan setelah bicara-bicara dengan beliau, beliau akhirnya merekomendasikan dua orang untuk dipilih menjadi pengganti. Dua orang itu, Fajar dan Ipin. Fajar sepertinya tidak bisa, karena beliau sudah aktif di IAAS. Jadi, kakak menaruh harapan besar ke Ipin, karena Ipin sudah dipercaya untuk itu. “ Beliau menjelaskan.

Saya bingung mau menjawab apa. Karena saya sendiri waktu itu sudah dekat dengan posisi Ketua BEM. Tapi, seperti harapanku yang ada dari dulu yang masih terbayang, saya ingin berkontribusi sebagai lurah di asrama.

“Ehm… Begini kak, jujur saja, sebenarnya dulu saya memang ingin menjadi lurah, tapi sekarang, saya sudah sangat dekat dengan posisi ketua BEM kak. Saya di magang BEM sudah menjadi koordinator, dan teman-teman di magang BEM sudah bersedia mendukung saya. Bingung kak. BEM itu keinginan saya dari SMA.” Jelasku.

“Ehm… Begini pin. Asrama sedang membutuhkan ipin. Kakak harap, ipin bisa memutuskan. Dan kakak harap keputusannya ipin adalah memilih lurah.” Tambah beliau.

Perbincangan itu terus berlanjut. Saya bingung untuk memutuskan karena saya tidak bisa menyanggah semua kata-kata Kak Catur ,  karena esperti itulah kenyataanya. Akhirnya ku mengambil keputusan.

“Begini saja kak. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri untuk menjadi Ketua BEM. Tapi saya juga tidak bisa mengesampingkan keutamaan menjadi lurah yang memang diperlukan. Jadi, saya serahkan penentuannya pada waktu Kak. Kalau misalnya tanggal Open Recruitment (OR) pemilihan BEM lebih cepat dari pada pemilihan lurah baru, saya akan milih BEM, dan begitupun sebaliknya.”

Kak catur mau menerima hal itu. Namun ternyata, tanggal pemilihan lurah baru dipercepat. Dan akhirnya saya terpilih menjadi lurah, Lurah Asrama TPB IPB Gedung C2 angkatan 46.

Saya mensyukuri saya bisa menjadi lurah. Ipian yang sempat runtuh pada bebrapa bulan yang lalu. Namun, karena besarnya kekuasaan Allah, akhirnya bisa saya raih, walau pun saya harus merelakan impian untuk menjadi ketua BEM TPB. Itulah pilihan, dan akhirnya saya memilih berkontribuasi dimana sayamemang dibutuhkan, yaitu menjadi lurah.

Saya semakin percaya, bahwa asalkan kita punya keyakinan, dengan seizin Allah SWT tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki hikmah, tergantung kita saja untuk arif menilai kehidupan ini.



Surabaya, Kembalilah Jiwamu

22 12 2010

Surabaya… Surabaya…

Tergetar hatiku saat menyebut kata “ Surabaya”

Kulihat Engkau semakin berubah.

Tiap waktu,

Aku lihat engkau selalu memperelok diri

Engkau bangun terus fasilitas, fasilitas yang egoismemu rasakan perlu

Bangunan tinggi yang sudah melebihi gunung-gunung

Engkau tinggikan lagi

Suramadu,

Bagaikan mau mengalahkan Nabi Musa sepertinya

Engkau belah lautan,

Engkau bangun jembatan di atas lautan

Surabaya-Madura

Tapi, aku ini hanya rakyat jelata

Jadi, apa itu yang aku rasakan?

Surabaya… surabaya…

Dulu, guruku pernah bercerita

“Anak-anakku, Surabaya itu terkenal dengan jiwa kepahlawanannya, jiwa patritiknya. Orang-orang di sana dengan gagah berani melawan penindasan, ketidakadilan, dan mengusir penjajah. Karena itu, surabaya disebut juga ‘Kota Pahlawan’.

Tapi, apa jiwa-jiwa itu masih ada sampai sekarang?

Aku harap begitu…

Surabaya… Surabaya…

Kini, jati dirimu kian pudar

Keakraban, persahabatan, persatuan

Yang dulu membuatmu menjadi Kota Pahlawan

Sekarang, boleh dibilang

Hanya menimbulkan pengrusakan dan kerusuhan

Lihat saja orang-orang penggemar benda bundar itu

Menang atau kalah posisi mereka

Stadiun-stadiun akan menjadi sasaran

Bahkan stadiun-stadiun pun

Menjadi sasaran timpukan-timpukan amarah kekalahan

Srabaya… Surabaya…

Konon Engkau disebut pula ‘Ujung Galuh’

Dimana banyak ulama-ulama bernaung dan berteduh

Wanita-wanita tidak mempunyai harga tinggi di sana

Ayolah…

Kemana Surabaya tempo dulu?

Aku senang Engkau berkembang,

Tapi, aku sedih engkau lupa jati diri mu

Kembalilah Surabaya…

Surabaya Kota Pahlawan,

Surabaya Kota para pejuang…

Ibu kota Jawa Timur

Rakyatnya hidup makmur

Semoga jiwa mu wahai Surabaya…

Dulu dan sekarang, tetap sama